Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Menyeimbangkan Pemikiran Lateral dan Logis

  • 1


Edward De Bono seorang psikolog dari Malta memperkenalkan sebuah pola pemikiran baru yang dinamainya pemikiran lateral. Beberapa sumber secara sederhana mendefinisikannya sebagai berpikir di luar kotak atau out of the box thinking. Sumber lain mengatakan bahwa, De Bono sendiri mendefinisikan berpikir lateral sebagai suatu metode berpikir yang lebih menitikberatkan kepada perubahan konsep dan persepsi. Pola pemikiran baru inilah yang menjadi bahan diskusi pada kuliah Creative Thinking(27/3/2015) Jumat ini.

Revolusi Sistem Pendidikan, Hancurkan Sistem Pendidikan Industrialis!

  • 1

Presentator pada kelas Creative Thinking Jumat ini(20/3/15) menyuguhkan sebuah bahasan menarik mengenai kecerdasan majemuk. Sudah cukup lama klasifikasi Howard Gardner mengenai 8 jenis kecerdasan ini saya dengar. Setiap kali mendengarnya kembali, saya selalu tergelitik untuk bertanya: Kenapa para pemangku kebijakan pendidikan di negeri ini seolah acuh tak acuh terhadap teori Gardner? Padahal, faktanya hingga detik ini teori Gardner masih relevan!

Berkreasi di Tengah Keterbatasan?

  • 1

Banyak orang mengira bahwa orang-orang kreatif itu pekerjaannya mudah karena mereka hanya berfokus pada karya kreatif yang mereka lihat. Jarang mereka memahami kerumitan di balik proses kreatif itu sendiri. Tak ayal, celetukan-celetukan seperti gambar di atas kerap menusuk kuping para pembuat karya. Perlu disadari bahwa proses kreatif itu panjang dan penuh akan lika-likunya.

Menelisik Akar Kemunculan Kreativitas

  • 1


Pada pertemuan terakhir(6/3/2015) mata kuliah Creative Thinking, kelompok presentator membahas sekelumit sejarah tentang kemunculan kreativitas. Menurut kelompok presentator, kemunculan kreativitas terutama di Indonesia terkait erat dengan bencana. Kreativitas manusia pertama kali tumbuh untuk menghindari dan mencegah dampak tak terkira dari bencana. Saya kira hal ini benar adanya, kreativitas seringkali muncul di tengah-tengah kesulitan dan ketika kita berada jauh dari zona nyaman. Kebanyakan orang kreatif muncul dari latar belakang yang tidak mapan, penuh akan kesulitan hidup, dan berasal dari kalangan-kalangan yang agak termarjinalkan. Namun, bencana tentunya bukan kondisi tunggal lahirnya kreativitas. Jika tidak, hal ini akan amat mengerikan. Pastinya bukan bencana yang mengakibatkan kreativitas dapat tumbuh subur. Sebuah pertanyaan esensial selanjutnya muncul menggelitik otak saya, “Lantas apakah itu?  Hal apakah yang memicu lahirnya kreativitas di tengah-tengah bencana?” 

Kelas, Industri, dan Birokrasi Kreatif

  • 1

Kelas Kreatif, Industri Kreatif, dan Badan Ekonomi Kreatif, setidaknya 3 kata kunci inilah yang saya tangkap dalam kuliah Creative Thinking(Jumat, 27 Feb 2015). Kelas Kreatif, satu kata yang unik yang seolah meminjam terminologi Marxisme mengenai segregasi kelas. Kelas kreatif mungkin muncul sebagai respon dari adanya kelas pekerja rutin yang dianggap monoton, layaknya kelas proletar yang muncul sebagai anti-tesis dari kelas kapitalis. Namun, kosnep ini alangkah baiknya digunakan secara hati-hati untuk menghindari segregrasi yang tidak perlu. Lagipula, susah untuk menentukan batas di mana seseorang bisa dibilang kreatif ataupun tidak.  

Mendefinisikan Kreativitas


Kreativitas, kata sederhana yang acapkali kita temui, sedikit banyak kita tahu maknanya. Kita seringkali bilang orang A kreatif, orang B kreatif, lantas apa sebenarnya arti definitif dari kata ini? Jawabannya mungkin belum ada dan tidak akan pernah ada. Namanya saja kreatifitas katanya pun harus dimaknai dan didefinisikan secara kreatif, selalu ada beribu cara mencapai puncak gunung demikian pula cara untuk mendefinisikan kata ini. Kalo Anda iseng buka Google dan mengetik kata ini, seabrek definisi dengan perspektif-perspektif unik pun muncul. Berikut adalah beberapa di antaranya: