Combining Efficiency and Friendliness

  • 1

Ask foreigners who have visited Indonesia or other Southeast Asian country, what is one good thing about Southeast Asian countries? Most of them will answer in unison: ’the people are friendly’. I spent most of my live in Indonesia, and probably as most of Indonesian we take it for granted that our people are friendly, much friendlier than our neighbour in the north. We’re used to take a ‘thank you’ accompanied by warm smile as a complimentary part of service even in a humble Warteg. Only on the eyes of foreigners I notice that it’s actually a luxury in other countries. I’ve heard some pretty bad recount of rude service of waiter or waitress in China. A friend from China once told me a story of rude service by MRT ticket-seller. Here goes the story:

The Millenials, Are We The Trapped Generation?

Marketing experts like to coin new terms for their convenient of segmenting market demographics. Thus, the terms like Generation X, Generation Y, and the Millennials are created. The exact definition of each generation are vague, but let’s just use the following definition from Wikipedia for the convenient of understanding the point in this article:

  • The baby boomers are the generation that was born following World War II, generally from 1943–1960
  • Generation X, commonly abbreviated to Gen X, is the generation following the baby boomers. Demographers and researchers typically use starting birth years ranging from the early-to-mid 1960s and ending birth years ranging from the late 1970s to early 1980s. 
  • Millennials, also known as the Millennial Generation or Generation Y, are the demographic cohort following Generation X. Demographers and researchers typically use the early to mid-1980s as starting birth years and the mid-1990s to early 2000s as ending birth years.
  • Generation Z, also known as the Post-Millennials or "the Information Generation"or the iGeneration or Homeland Generation or "The founders" or "Plurals" or 9/11 Generation, is the cohort of people born after the Millennials. Demographers and researchers typically use starting birth years ranging from the mid-1990s to early 2000s, while there is little consensus yet regarding ending birth years. Generation Z is known as the first generation not to have experienced life without technology or social media.

The Divine Comedy

  • 2
Have you ever noticed some random insane, mentally-ill people literally LOL-ing on the corner of the street? I want to postulate this random theory. First and foremost, they're not laughing for no reason at all. 

I think they have just lost a game, a comedic one with life. They've underestimated how funny life, or - if you prefer - God can be. I'm not sure whether God does exist or not, but one thing to be sure if he does. I'm not sure if he is omniscience, omnipotent, omni-whatever but I'm sure he's a great comedian. Those crazy people, they might have underestimated God's sense of humor. It's more cruel, noir, and unexpected that you could've ever imagined. He's a great mastermind behind world's sickest jokes. 

Konflik SARA atau Konflik Kepentingan Atas Nama SARA?

  • 2
Demonstrasi 4 November diawali dengan tentram dan diakhiri kericuhan, ini adalah sebuah fakta. Fakta yang agak mengusik tentunya, mengusik saya untuk turut untuk berbagi sedikit pandangan, entah salah entah benar, yang pasti tidak berusaha memprovokasi seperti hmmm.... oke kita lanjutkan. 

Sumber: viva.co.id

Branding, The Powerful Tool Against Stereotypes

  • 1
Since the dawn of civilizations, humans have the nature or I prefer to call it the ‘hobby’ of categorizing things. Humans categorize time, creating January, February, 1900, Before Century, A.D., we categorize stars and creating constellations, solar system and of course we categorize living things on earth. Aristotle, one of the greatest Greek philosophers is famous of his keen interest in animal classification. At his time, it was very simple, 4-legged animals, 2-legged animal, bird, fish and so on. Fast forward to the modern time, the name Carolus Liannaus surfaced, continuing Aristotle’s legacy of animals and other living things classification. He later introduced the ‘binominal nomenclature’, a systematic and much more detailed system of living things classification. He then known as the Father of Taxonomy.


Sebuah Renungan Di Tengah Dunia yang Kian Divergen

  • 1

Minggu ini, menjadi momentum yang penting bagi kaum LGBT di seluruh dunia. Mahkamah Agung Amerika Serikat meloloskan sebuah legislasi yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Tak lama setelah palu diketok, masyarakat dari berbagai latarbelakang bereaksi dan buka suara. Sebenarnya, AS bukan negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis, adalah negari kincir angin yang menjadi negara pioneer dalam melegalkan gay marriage. Namun, tradisi Protestan yang kuat mengakar di masyarakat Amerika dan perannya sebagai negara adidaya Barat membuat keputusan dramatis ini mengundang reaksi yang luas. Kiblat peradaban dan kebudayaan Barat modern memberikan persetujuan secara legal pada hubungan yang sudah sejak lama dicap sebagai menyimpang dan penyakit akut. Media di berbagai belahan dunia menyoroti keputusan ini, bahkan sempat muncul perbincangan dengan Menteri Agama mengenai kemungkinan hal yang sama diterapkan di Indonesia. Netizen pun tak mau ketinggalan menumpahkan berbagai pandangannya melalui berbagai media sosial yang ada. Timeline Facebook penulis tiba-tiba dipenuhi profile picture warna pelangi yang menjadi simbol kebangaan kaum gay. Di sela-sela postingan tersebut,  muncul pula berbagai tulisan yang menyatakan rasa keprihatinan dan mengutuk keputusan tersebut, terutama dari kawan-kawan Facebook yang menganut agama Kristen dengan taat. Sebagian pihak menilai, langkah ini menunjukkan progress yang besar bagi pengakuan persamaan hak. Di satu sisi, sebagian besar kaum konservatif menilai momentum ini sebagai kemerosotan moral, beberapa malah secara ekstrim mengaitkannya sebagai pertanda hari Kiamat, apalagi setelah heboh-hebohnya kasus suara sangkakala. Suara sangkakala, kemerosotan moral, kiamat? Hmmm, memang nampaknya menjadi pembuka yang pantas untuk hari akhir. Namun, dilihat secara lebih menyeluruh penulis memandang momentum ini menjadi salah satu titik yang menunjukkan bahwa dunia semakin berubah ke arah dunia yang semakin divergen, tidak lagi konvergen dan penuh akan hegemoni. Masyarakat modern tampaknya berusaha untuk terus meminimalisir peraturan. Hal ini telah dicerminkan dalam berbagai aspek perjalanan kehidupan manusia.

Kuliah Umum Creative Thinking Jay WIjayanto

  • 5

Kuliah Creative Thinking hari(8/5/15) ini agak sedikit berbeda. Ruang kelas berpindah, mahasiswa pun tampak sedikit membeludak memenuhi ruang kelas 1106B yang notabene sudah cukup luas untuk menampung lebih dari 80 mahasiswa. Di tengah keributan para mahasiswa yang baru saja datang, tiba-tiba sosok dengan muka yang tidak asing lagi masuk ke dalam ruangan. Rupanya sosok terebut adalah dosen tamu yang mengisi acara kuliah umum Creative Thinking pagi ini. Sebelum mulai berbicara beliau meminta seluruh kelas untuk serentak berdiri dn menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka”. Agak aneh? Iya, begitulah gaya Beliau dan katanya ini tidak melanggar konstitusi kok! Hahaha

Menyeimbangkan Pemikiran Lateral dan Logis

  • 1


Edward De Bono seorang psikolog dari Malta memperkenalkan sebuah pola pemikiran baru yang dinamainya pemikiran lateral. Beberapa sumber secara sederhana mendefinisikannya sebagai berpikir di luar kotak atau out of the box thinking. Sumber lain mengatakan bahwa, De Bono sendiri mendefinisikan berpikir lateral sebagai suatu metode berpikir yang lebih menitikberatkan kepada perubahan konsep dan persepsi. Pola pemikiran baru inilah yang menjadi bahan diskusi pada kuliah Creative Thinking(27/3/2015) Jumat ini.

Di Balik Video @sekotji: "Bertandang Ke Negeri Jiran"

  • 0

Video singkat di atas adalah salah satu postingan gue di @sekotji. Inti dari video ini sebenernya sederhana, yakni pengen mengangkat satu ironi yang terjadi pada kebanyakan orang Tionghua di Indonesia. Kebanyakan ya bukan semua, tolong ditekankan. 

Revolusi Sistem Pendidikan, Hancurkan Sistem Pendidikan Industrialis!

  • 1

Presentator pada kelas Creative Thinking Jumat ini(20/3/15) menyuguhkan sebuah bahasan menarik mengenai kecerdasan majemuk. Sudah cukup lama klasifikasi Howard Gardner mengenai 8 jenis kecerdasan ini saya dengar. Setiap kali mendengarnya kembali, saya selalu tergelitik untuk bertanya: Kenapa para pemangku kebijakan pendidikan di negeri ini seolah acuh tak acuh terhadap teori Gardner? Padahal, faktanya hingga detik ini teori Gardner masih relevan!

Berkreasi di Tengah Keterbatasan?

  • 1

Banyak orang mengira bahwa orang-orang kreatif itu pekerjaannya mudah karena mereka hanya berfokus pada karya kreatif yang mereka lihat. Jarang mereka memahami kerumitan di balik proses kreatif itu sendiri. Tak ayal, celetukan-celetukan seperti gambar di atas kerap menusuk kuping para pembuat karya. Perlu disadari bahwa proses kreatif itu panjang dan penuh akan lika-likunya.

Menelisik Akar Kemunculan Kreativitas

  • 1


Pada pertemuan terakhir(6/3/2015) mata kuliah Creative Thinking, kelompok presentator membahas sekelumit sejarah tentang kemunculan kreativitas. Menurut kelompok presentator, kemunculan kreativitas terutama di Indonesia terkait erat dengan bencana. Kreativitas manusia pertama kali tumbuh untuk menghindari dan mencegah dampak tak terkira dari bencana. Saya kira hal ini benar adanya, kreativitas seringkali muncul di tengah-tengah kesulitan dan ketika kita berada jauh dari zona nyaman. Kebanyakan orang kreatif muncul dari latar belakang yang tidak mapan, penuh akan kesulitan hidup, dan berasal dari kalangan-kalangan yang agak termarjinalkan. Namun, bencana tentunya bukan kondisi tunggal lahirnya kreativitas. Jika tidak, hal ini akan amat mengerikan. Pastinya bukan bencana yang mengakibatkan kreativitas dapat tumbuh subur. Sebuah pertanyaan esensial selanjutnya muncul menggelitik otak saya, “Lantas apakah itu?  Hal apakah yang memicu lahirnya kreativitas di tengah-tengah bencana?” 

PK (2014)

  • 0

Udah cukup lama gue ga pernah nonton film Bollywood, sampe temen gue rekomen film PK ini. Personally, gue emang ga terlalu suka genre film Bollywood yang biasanya panjang banget, sometimes bahkan ampe 3 jem. Katanya dosen Filmologi gue, ini alasan kenapa bioskop Indo jarang muter film India. Katanya karena takut rugi, tiket yang harganya sama tapi waktu putarnnya panjang banget. Baiklah kembali ke PK. Meskipun ga terlalu doyan, berhubung uda dibocorin isi ceritanya gue langsung tertarik untuk coba lihat film karya Rajkumar Hirani. Temen gue bilang film PK ini bakal berkisah tentang alien yang datang ke bumi dan mempertanyakan agama. Tema kontroverisal yang bakal seru banget untuk diangkat! Setelah nunggu download selama beberapa jam[maafkan gue pak produser, sutradara, dkk :'( ], gue pun mengahbiskan dua setengah jam terpaku di depan layar laptop, dan hasilnya gue ga kecewa! Tanpa ragu, gue langsung memasukkan film ke dalam daftar film favorit gue.

Change Your Perspective!

  • 0
One fine evening, I was too lazy to do anything, so I was browsing on the internet. I was scrolling on 9gag for hours, till suddenly an interesting double face illusion stop me for awhile. Amazed on how it works, I went on deeper research on how to make it with my own face. As I kept reading I, I figured out that I need a tripod in order to make one, and yeahh.. I didn't have one at that time so I kept scrolling again, ~waiting for the day I’ll be willing to spend some cash to buy a tripod.

Last Friday, ~after I got some extra cash from the red pockets money~ finally I purchased a tripod at the super-cheap shopping center located in the heart of Jakarta, Pasar Baru! [I just found out that this is one of the greatest and cheapest place to find almost anything, even some trifle stuffs] So, the day I got it, I decided to make one! After spending hours working on Photoshop, here is what I got ta-da....



A photo posted by Ilham Ang (@ilham_ang) on


It’s not perfect, but I guess it does somehow create the double face illusion. I love the illusion not just because how cool it looks, but mostly because the message it is conveying with. This picture is trying to tell you something, and I hope you get it.

Have you ever felt that your live is stuck? Everything goes wrong, you have done everything, but every single effort is vain. It seems like you have reached the dead-end! Pretty sucks, huh? Sometimes, I feel the same way too, but this picture is telling me a simple way to change the whole thing! You don’t need to start a war, picking a fight, or even speak a single word, what you have to do is just tilting your head a bit, and change your perspective! All of sudden, voila there is a light amidst the darkness, there is a way out, a brand new way of seeing the world! This simple illusion shows us the importance of perspective.

When life gives you lemon, change your perspective a bit and maybe within a blink of eye it’ll turn out to be a banana! :)

Kelas, Industri, dan Birokrasi Kreatif

  • 1

Kelas Kreatif, Industri Kreatif, dan Badan Ekonomi Kreatif, setidaknya 3 kata kunci inilah yang saya tangkap dalam kuliah Creative Thinking(Jumat, 27 Feb 2015). Kelas Kreatif, satu kata yang unik yang seolah meminjam terminologi Marxisme mengenai segregasi kelas. Kelas kreatif mungkin muncul sebagai respon dari adanya kelas pekerja rutin yang dianggap monoton, layaknya kelas proletar yang muncul sebagai anti-tesis dari kelas kapitalis. Namun, kosnep ini alangkah baiknya digunakan secara hati-hati untuk menghindari segregrasi yang tidak perlu. Lagipula, susah untuk menentukan batas di mana seseorang bisa dibilang kreatif ataupun tidak.  

Mendefinisikan Kreativitas


Kreativitas, kata sederhana yang acapkali kita temui, sedikit banyak kita tahu maknanya. Kita seringkali bilang orang A kreatif, orang B kreatif, lantas apa sebenarnya arti definitif dari kata ini? Jawabannya mungkin belum ada dan tidak akan pernah ada. Namanya saja kreatifitas katanya pun harus dimaknai dan didefinisikan secara kreatif, selalu ada beribu cara mencapai puncak gunung demikian pula cara untuk mendefinisikan kata ini. Kalo Anda iseng buka Google dan mengetik kata ini, seabrek definisi dengan perspektif-perspektif unik pun muncul. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Menjadi Turis di Negeri Sendiri

  • 2

“I’m sorry, Sir. The monument is closing. Come back again earlier tomorrow.”, teriak seorang pria paruh baya menghampiri gue yang lagi asik mengabadikan ikon ibukota dari pelataran. Awalnya, gue sempat bingung kenapa tiba-tiba diajak berbincang dalam bahasa Inggris sama orang ini. Tapi setelah melihat outfit gue hari itu dengan baju kaos Jogjakarta dan sandal Joker macam turis nyasar gue mulai paham apa yang sedang terjadi. Ternyata muka oriental ditambah tripod yang gue tenteng-tenteng demi ngerjain tugas matkul foto gue berhasil mengelabui si penjaga Monas ini. Di tengah kebingungan si penjaga Monas ini kembali melanjutkan sahutannya sembari terus berjalan mendekat: “I worked at this monument. Where are you from, Sir? Are you from China?”

Antusiasme, Ciri Bangsa Indonesia

  • 0

Hampir setiap bangsa punya label masing-masing, ketika berbicara bangsa Prancis kita teringat akan bangsa yang bebas, ketika bicara bangsa Jerman, langsung terpikir bangsa yang rapi dan berpendidikan, ketika bicara bangsa Jepang, bangsa dengan teknologi yang maju yet punya budaya tradisional yang kuat langsung terbayang di otak. Lantas, bagaimana dengan branding bangsa Indonesia?
  
Sebagian besar anak muda bangsa ini yang gue temui(pergaulan gue sempit, gue yakin masih banyak anak bangsa yang optimis) cenderung pesimis dan melabel Indonesia dengan sederet label-label negatif macam pemalas, korup, suka jalan pintas, tak patuh aturan, dlsb. Branding ini bukan ga beralasan. Carut-marut politik tanah air, ketimpangan sosial dan sederet masalah kompleks di Indonesia telah menjadi cermin nyata sebagian label ini benar. Sebagian label ini benar, itu berarti masih ada ruang bagi label-label positif negeri ini. Gue penasaran apa ya kiran-kira branding positifnya? Kata pertama yang terbesit di otak gue sebenrnya adalah ramah, tapi gue pengen ngomongin satu branding yang lain yang mungkin belakangan udah agak pudar, yakni Antusiasme!  Yap, jiwa-jiwa yang antusias masih bisa ditemukan di seantero negeri ini. Jiwa-jiwa yang antusias ini yang selalu menjadi angin sejuk di balik kesemerawutan politik dan sosial budaya di negeri ini. 

Kritik terhadap Film ‘Di Balik 98’

  • 1

Sejarah Indo, Kasus 98, Lukman Sardi dan Chelsea Islan jadi kombinasi  sempurna yang membuat gua menaruh ekspetasi tinggi pada film yang baru dirilis tanggal 15 Januari ini. Sebelum nonton ini, gue sempet cek di google dan ternyata studionya adalah MNC Pictures yang notabene gue kurang suka produksinya, alhasil gue pun menurunkan sedikit eskpetasi gue walaupun gue tau ga seharusnya gue berasumsi seperti itu. Sayang ekspetasi gue yang udah diturunin dikit ini ternyata juga tidak berhasil dipenuhi setelah sekitar 100 menit duduk manis(oke, tidak terlalu manis di dalam Studio 5, XXI Pluit Village. Ada beberapa poin yang menjadi dasar kekecewaan gue:

Die Welle

  • 0


You think dictatorship isn't possible in German anymore?
Gue ga pandai membuat sinopsis, jadi untuk sinopsis lengkapnya boleh dicek di sini. Intinya film yang mengangkat tema edukasi dan filosofi politik ini berusaha membuktikan kecacatan sistem otoriter ala Nazi Jerman dan menggambarkan bagaimana manusia bisa dengan mudahnya dimanipulasi untuk mendukung sistem ini.